Tanpa Niat Baik, TI Tidak Ada Artinya

I_053_0113Artikel berikut adalah kutipan dari pcmedia yang bercerita tentang pengalaman Zatni Arbi saat berobat ke Rumah Sakit di Singapura yang merupakan bagian 2 dari 2 artikel(Artikel sebelumnya bercerita tentang pengalaman menggunakan RS Swasta di Indonesia). Opini dan pengalamannya menjadi pelajaran yang baik  bagi pengelola SIMPUS/RS, sekaligus menjadi motivasi bagi provider kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien.

Saya bertanya, apa gunanya komputerisasi dan TI di sebuah lembaga yang begitu besar bila tidak didasari pada niat baik mereka yang memakainya?

Mari kita lihat sebuah rumah sakit di Singapura. Berdasarkan informasi yang ada di homepage-nya saya sudah tahu bahwa National University Hospital (NUH) adalah rumah sakit yang tepat untuk kondisi saya(web yang baik,memberi informasi yg berharga bagi calon customer,edt). Begitu keluar dari Changi, saya dan istri langsung kerumah sakit ini. Saya terdampar di bagian Medical Emergency. Saya harus membayar S$90 untuk pemeriksaan awal. Setelah mendaftar, mengisi data, dan membayar, saya lalu dibawa ke dokter jaga. Saya jelaskan kondisi saya dan tujuan saya datang ke rumah sakit itu, dan dokter yang masih sangat muda itu menerangkan bahwa saya cukup menelepon International Patient Liasion Center(IPLC) besok pagi-pagi untuk appoiment. “You don’t need to waste your money here. I can cancel this if you like.” maka, pemeriksaan saya malam itu dibatalkan dan uang saya dikembalikan seluruhnya!

…untuk menghemat kertas, dokter membalikkan printout dan memasukkannya kembali.

Keesokan paginya, saya menelepon IPLC. Penerima telepon meminta nomor telepon untuk menghubungi saya,karena saya meminta appoiment secepat mungkin. Tidak berapa lama kemudian saya menerima teleponnya. “Mr.Arbi, We have set up an appointment  for you to see Dr. Lim at 11:30 today. He is a senior consultant.” lalu saya diberi petunjuk yang amat jelas harus datang kemana, pukul berapa, apa saja dokumen yang harus saya bawa, berapa biaya konsultasi, dan sebagainya.

Di IPLC, saya harus mengisi satu lembar formulir saja, memperlihatkan paspor dan menunggu sebentar. ternyata data saya, yang malam sebelumnya dimasukkan bagian emerjensi medis, masih ada di database mereka. Jadi mereka tinggal menggunakan data itu. Saya diberi kartu pasien berwarna biru.

Lalu saya dan istri diantarkan ke lantai 8, di mana saya akan bertemu dengan Dokter Lim. Sekali lagi, sebenarnya kami dengan mudah bisa menemukannya, tetapi rupanya begitulah standar prosedur mereka. Kami dipersilahkan menunggu diruang tunggu. Disana, air minum dan biskuit tersedia gratis. Tidak lama kemudian saya dipanggil untuk keruang praktik dokter.

Setelah berdiskusi, Dr.Lim mengatakan dia ingin saya menjalani X-Ray, CT Scan, dan sejumlah pemeriksaan darah. Disetiap bagian, saya cukup memperlihatkan kartu pasien berwarna biru yang saya dapatkan di IPLC tadi. Tidak perlu surat pengantar macam-macam, karena petugas langsung membaca semua intruksidi komputer masing-masing.

Pukul 4 sore saya kembali bertemu dengan Dr Lim. “Wow, this is a different room,” kata saya berkelakar untuk membuat dia lebih nyaman berterus terang tentang kondisi saya sebenarnya. “Yes, we had to use the other one because this one was used,” jawabnya. Dia lalu memperlihatkan hasil CT Scan di layar komputer. Bisa di- Zoom in dan out untuk memperlihatkan bagian-bagian yang kurang baik. Kami lalu membicarakan opsi-opsi apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah saya.

Dokter Lim menyarankan agar keesokan harinya saya bertemu dengan seorang surgeon. Dia sendiri yang menghubungi surgeon itu lewat HP-nya. Ketika saya minta salinan hasil tes laboratorium yang mereka lakukan. Dr.Lim sendiri yang mencetakkan di printer-nya. Lebih mengagumkan lagi, untuk menghemat kertas, dokter ini membalikkan printout dan memasukkannya kembali secara manual agar kedua halamannya terpakai.

Ketika saya tanya, apakah saya juga bisa mendapatkan copy hasil CT Scan, Dr.Lim menerangkan bahwa saya bisa mendapatkan CD-ROM-nya dibagian Imaging. Keesokan harinya, saya ke bagian itu. mereka langsung meng-copy hasil CT Scan dan Chest X-Ray ke dalam CD-Room-tanpa biaya apa-apa.

Lalu, sewaktu saya ingin membatalkan tiket saya untuk pulang ke indonesia karena sang surgeon ternyata punya solusi buat saya. Dengan bertanya sedikit, saya lanmgsung diberitahu, di IPLC juga tersedia dua PC yang terkoneksi ke internet dan dapat dipakai pasien selama 15 menit-juga gratis.

Semua TI di NUH bukan sekadar pajangan, karena memang mereka memakainya untuk melayani sebaik mungkin. Mereka memiliki misi menyembuhkan pasien. Semua mungkin tercermin pada SMS dari Ban Ling, koordinator klinik yang baru saya kenal di rumah sakit itu. Saya terima SMS-nya ketika saya SMS dia untuk menyampaikan terimakasih atas segala bantuannya. Bunyinya:“I hope u get treated soon. Take care.”.

Tags:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tinggalkan Pesan dan Kritik