Tanpa Niat Baik, TI (simpus) tidak ada artinya, bagian 1 dari 2 tulisan

30/09/2009 by: Ton

Berikut adalah artikel dari viewpoint pcmedia. sebenarnya tulisan ini terbit sebelum tulisan yang di postingkan sebelumnya, yang berisi pengalaman Zatni Arbu memanfaatkan jasa RS di Indonesia dan Singapura. Berhubung majalahnya baru ketemu, jadi baru bisa diposting untuk artikel bagian pertama ini. Semoga bermanfaat.

“pak Zatni masuk hari senin, langsung persiapan. Selasa kita biopsi dan rabu Pak Zatni bisa pulang.” Kata dokter saya, dokter yang saya anggap sangat baik, sangat kapabel dan peduli pada kesehatan saya.

Mudah dimengerti mengapa dia berpesan demikian. Rumah Sakit tempat biopsi ini adalah RS sejuta umat. Karena RS ini begitu terkenal, tidak sulit mendapatkan nomor2nya dari 108, Halaman Kuning, maupun intetrnet. Sayangnya, hampir semua nomor telpon ini tidak ada yang mengangkat. Bahkan ada yang belum terpasang.

Suatu kali isteri saya berhasil menghubungi salah satu nomor. Tapi dia tidak tahu nomor yang harus kami hubungi untuk menanyakan ketersediaan kamar. Istri saya mengeluh ke penerima telpon itu, “bagaimana Mas caranya mem-book kamar di rumah sakit ini.?” Ingin tahu jawabannya si penerima telepon ? “ibu cari saja di internet”

Karena selalu gagal menghubungi RS itu melalui telepon, saya pun datang kesana di hari selasa seminggu sebelumnya. Setelah berjuang untuk sampai ketempat pendaftaran pasien saya mendapatkan penjelasan dari petugas yang duduk didepan layar komputer. “kami hanya menerima pendaftaran dan men-data entry 24 jam sebelum pasien masuk.” Saya tanya, mungkinkah saya mendaftar sekarang dan bayar biaya saat ini juga agar saya yakin akan mendapatkan tempat hari senin minggu depan. “Tidak bisa, Pak”

Sudah mulai terbayang mimpi buruk dalam menembus birokrasi di RS sejuta umat ini. Minggu pagi, saya coba telepon ada yang menjawab. Tapi penjelasannya baik sekali, sehingga saya justru bertanya-tanya, apakah kata2nya bisa dipegang ? Supaya benar-benar yakin, saya dan istri saya memutuskan ke RS itu hari minggu sore untuk mendaftar,

Maka kami pun mendaftrar langsung dikantor yang diberi nama MOD. Sampai sekarang saya tidak pernah tahu apa kepanjangan MOD ini. Ternyata data yg diminta hanya nama, alamat dan nama dokter yang mengirim saya. Saya lalu mendapatkan tempat di kamar 812.

Senin pagi-pagi sekali, saya menerima sms dari dokter “kalau bisa masuk pagi, kita bisa kerjakan hari ini juga.” Saya gembira, karena berarti saya bisa cepat pulang dan tempat tidur bisa dipakai pasien lain.

Sesampai di MOD, saya disuruh mengantri. Dengan sedikit bersikeras, saya mengatakan  sudah dapat tempat di kamar 812 dan saya harus segera masuk supaya bisa segera ditangani dokter saya. di MOD, istri saya disuruh mengisi formulir lagi, catat sana sini,lalu disuruh ke UPPJR setelah mencari-cari UPPJR dan mengantri, petugas mengajukan pertanyaan pertama ” Mana surat pengantar dari MOD ?” Maka istri saya harus terseok-seok menuju MOD sambil mengomel dalam hati. Istri saya penderita osteo-artritis, kembali ke UPPJR membawa surat rujukanm antri lagi dan saat menghadap ada satu masalah lagi ” Formulir ini tanggalnya kemarin. Kami tidak bisa paklai. Ibu kembali saja ke MOD dan minta tanggalnya diubah.”

Bagaimana ini ? Data entry hanya boleh 24 jam sebelum pasien masuk. Tapi formulir yang dicetak dengan tanggal entry yang sama dengan data entry tidak diterima, karena tidak sama dengan tanggal pasien masuk.

MOD tidak mau mengganti tanggal formulir dan mencetak ulang. Setelah istri saya ribut, akhirnya petugas MOD mencoret dan memberi paraf dengan ballpoint, beres. Pegawai UPPJR cuma melihat tanggal itu sepintas lalu saja.

Kita lalu bertanya, apa gunanya komputerisasi di institusi itu ? Sistem dan prosedur baku tidak da. Niat para pegawainya untuk meringankan beban pasien dan keluarga mereka justru sama sekali tidak tercermin pada sikap mereka.

Bulan depan (maksudnya edisi ke-2 atau pada postingan sebelum ini) saya akan ceritakan bagaimana TI di National University Hospital (NUH) di Singapura dimanfaatkan. Sementara ini marilah sama-sama berdoa agar artikel opini ini tidak dianggap “Pencemaran nama baik” dan saya tidak dipenjarakan karenanya.

(sumber PCMEDIA 08/2009)

Comments

2 Responses to “Tanpa Niat Baik, TI (simpus) tidak ada artinya, bagian 1 dari 2 tulisan”
  1. Nggak habis pikir juga jika ada kejadian macam begini. Komputerisasi mestinya mempercepat proses pelayanan. Orang sakit kok pake pesan kamar dulu kayak di hotel. Lagian, yang ngatur itu siapa ? Kita yang ngatur (memprogram) komputer atau komputer yang ngatur kita ?

    • Ton says:

      kunci utamanya : apapun sofware/aplikasinya, terpenting tetap perangkat manusianya. Secanggih apapun software nya kalo gak ada komitmen untuk memudahkan pelayanan, hasilnya seperti artikel diatas.
      Terimakasih atas kunjungannya

Leave a Reply

CommentLuv Enabled