Open Source, Yang Kami Pahami

Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.
Tidak kami bayangkan sebelumnya, aplikasi sederhana yang kami kembangkan dengan software Microsoft office acces ini bisa bertahan sejak tahun 2003 di puskesmas, dan bahkan diadopsi dan dikembangkan oleh beberapa dinas kesehatan di wilayah Indonesia timur. Selain komitmen dari pejabat dilingkup dinas kesehatan dan kemudahan, salah satu kunci utama yang membuat aplikasi yang membantu pencatatan dan pelaporan ditingkat puskesmas ini tetap bertahan adalah beberapa kaidah open source yang dibangun oleh founding father aplikasi ini.
Sebelumnya di lingkup puskesmas ada beberapa aplikasi yang akhirnya layu sebelum digunakan, misalnya INKES, Software Gizi, Software pendataan Gakin dan beberapa aplikasi lainnya. Disamping tingkat kesulitan yang cukup tinggi yang dirasakan oleh user (petugas puskesmas) yang notabene adalah produk dari sekolah-sekolah JADUL yang masih belum kenal computer, coding program yang di compiler menyulitkan user untuk memperbaiki kesalahan dari aplikasi tersebut. Akhirnya karena gara-gara masalah kecil seperti nama dusun yang tidak cocok dengan wilayah puskesmas setempat, orang puskesmas pun enggan mengisi. “kenapa harus diisi, kalau data yang dimasukkan saja salah” kurang lebih begitu omelan orang puskesmas.
Data kesehatan di puskesmas, memang cukup rumit, berbeda dengan data bank misalnya. Kalau dibank data yang diolah cukup uang masuk, uang keluar, bunga dan administrasi dengan segenap kerumitan ATM dan seterusnya, tapi tetap 1 transaksi utama yaitu uang masuk dan uang keluar. Sedangkan data di puskesmas sangatlah banyak variable data yang diperlukan, misalnya saja, untuk mengelola data pengobatan pasien dibutuhkan field data mulai biodata lengkap, anamnese penyakit, pemeriksaan fisik atau penunjang, obat yang diberikan dan tindakan serta PIN dokter pemeriksa. Dari poli KIA, dibutuhkan selain data tersebut dibutuhkan juga data k1, k4 dan seterusnya. Program luar gedung pun juga tidak kalah rumitnya. Dan semua muara data tersebut adalah rekapan data untuk kemudian disajikan dalam sebuah report informasi yang dinamakan laporan. Di Dinas kesehatan propinsi, menurut mas Haky –salah seorang pejabat yang mengurusi data- variable data yang diperlukan oleh dinkes propinsi sebanyak 365 variabel. Kalau kaidah para pakar mengatakan bahwa data menganut kaidah piramida, maka semakin ke bawah variable data akan semakin banyak lagi. (jadi mungkin ditingkat kabupaten ada 500 lebih variable data, dipuskesmas mungkin 550 variabel data lainnya)
Berangkat dari permasalahan yang ada -baik teknis maupun non teknis-, di Ngawi dikembangkan sebuah pencatatan sederhana untuk puskesmas. Tahap awal di tahun 2003, tim terbentuk dengan anggota tanpa basic IT, hanya sekedar penggemar berat IT. Maka disusunlah kerangka data base yang berisi semua komponen di pengobatan. Kami mencoba menggunakan software Microsoft acces untuk mendevelop kebutuhan data tersebut, dengan pertimbangan karena inilah satu-satunya program data base yang dikuasai oleh tim. Aplikasi ini dibiarkan terbuka struktur database nya , mungkin konyol dan nekat, tapi inilah salah satu kaidah open source yang membawa berkah bagi tim.
Setelah program diuji cobakan di 2 puskesmas dan berhasil, aplikasi ini di tanam di 10 puskesmas. Dengan pelatihan singkat, 10 puskesmas pun siap untuk melayani pasien dengan bantuan computer, termasuk dalam hal pelaporan-pelaporan. Tetap, kaidah open source kami terapkan di 10 puskesmas.
Dengan struktur dan koding yang dibiarkan terbuka, maka muncullah talenta-talenta (atau istilah kami orang gila baru) yang mencoba semakin melengkapi kebutuhan data base melalui aplikasi sederhana ini. Berawal dari 1 aplikasi, saat ini sudah berkembang menjadi 14 aplikasi untuk memenuhi kebutuhan data di puskesmas.
Selain melengkapi, kendala-kendala kecil seperti nama desa tidak cocok, nama petugas salah bisa diatasi oleh calon anggota tim. Singkat kata, aplikasi sederhana ini bertahan dengan mulus dan lancer selama 2 tahun. Menginjak tahun ke-3 simpus mulai dikompilasi, tambahan-tambahan dari calon tim inti tadi akhirnya tercatat simpus pun mulai merambah pada kegiatan-kegiatan dliluar gedung selain pengayaan fitur dari aplikasi pencatatan di lingkup dalam gedung puskesmas. Dari sini kami membuktikan, kalau sebuah program dibiarkan terbuka dan pihak lain bisa untuk mengoptimalisai alias ngoprek, maka aplikasi tersebut akan semakin kaya.
Ditahun 2005, keberhasilan Ngawi mulai mendapat perhatian dari DEPKES. Ngawi diberikan sebuah reward yang luar biasa, kota kecil yang mungkin jarang bahkan tidak terlihat di peta atau google earth, menjadi tuan rumah Rapat Konsultasi Teknis Tentang Sistem Informasi Kesehatan yang dihadiri beberapa perwakilan dari Dinas Kesehatan se Indonesia. Alhamdulillah, peserta rakontek sebagian terpuaskan walupun kami yakin sebagian besar menyangsikan aplikasi kami dan beranggapan aplikasi acces kurang powerfull untuk menangani data base.
Undangan sharing pengelolaan simpus pasca acara rapat konsultasi teknis pun mulai berdatangan. Kesempatan pertama datang dari NAD, pasca tsunami, melalui GTZ dicoba mengembangkan aplikasi ini di puskesmas di NAD dengan dukungan dana dari Maltezer. Kesempatan ini pun benar-benar menjadi ajang sharing kami dengan pakar IT dari Jerman (walau aslinya orang Indonesia juga) Ibu Endah Foeldner. Aplikasi kami pun semakin kaya, baik fitur maupun kaidah-kaidah dasar sebuah aplikasi database. Sekali lagi kami membuktikan, aplikasi terbuka akan semakin kaya bila diperkaya oleh orang-orang yang lebih pakar dari kami.
Tanpa kami bayangkan sebelumnya, undangan sharing pun semakin banyak, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, NTB dan beberapa Dinas Kesehatan di Jawa Timur pun akhirnya mulai melirik mencoba mengembangkan aplikasi kami.
Dari semua undangan sharing ini, kami berprinsip pada kaidah open source yang kami pahami. Silahkan software aplikasi digunakan free tanpa beli, cukup mengganti dengan ongkos/kegiatan pelatihan saja. Walaupun kadang-kadang biaya pelatihan pun juga cukup tinggi sesuai dengan peraturan yang berlaku didaerah masing-masing, tapi tetap, aplikasi ini kami berikan free dan beberapa tim di dinkes pengadopsi kita berikan ’jeroan’ dari program aplikasi ini, dengan maksud, kabupaten pengembang tidak tergantung dengan tim dari Ngawi bila dikemudian hari ada permasalahan dan pengembangan.
Dengan metode seperti ini, plus dengan tim yang solid dari kabupaten pengembang, kami simpulkan aplikasi simpustronik ini bisa relatif bertahan dan memenuhi kebutuhan dari user. Bahkan ada beberapa daerah binaan LGSP USAID mencoba mengembangkan lebih jauh dengan VB, di Bondowoso dikembangkan dengan PHP, di Lamongan konon juga akan diambil kerangka database untuk kemudian dikembangkan ke dalam aplikasi yang lebih powerful (konon waktu di Lamongan, untuk buka aplikasi BP saking lamanya joke dari peserta bisa disambi bikin mi instan). Sekali lagi, dari sini kami mengambil hikmah dengan open soure yang kami pahami, aplikasi akan dapat bertahan lebih lama karena aplikasi tersebut mengerti akan kebutuhan pengguna.
Sebagai akhir dari postingan ini, saya berkeyakinan banyak pembaca yang mengatakan ”Aplikasi dari microsoft kok dibilang open source”. Syah dan bahkan benar kalau pendapat itu disampaikan. Untuk mengadopsi aplikasi ini kami mensyaratkan untuk membekali PC dengan OS Windows XP SP2 plus Microsoft Office Full 2003, karena memang itulah batas kemampuan kami, tim kami tidak ada yang jago SQL, kenal My SQL juga baru-baru saja, termasuk kenalan dengan makluk PHP juga belumlah lama. Tapi semangat open source yang kami pahami yaitu membagi source code dan struktur database itulah yang menjadi keberhasilan dari pengembangan aplikasi kami.
Dengan semangat yang sama dengan pengembangan aplikasi simpustronik,penulis membayangkan jika saja seluruh pakar IT baik dari golongan hitam dan putih, hacker maupun cracker bersatu, dengan difasilitasi Negara atau sponsor, tidaklah sulit membuat sebuah OS Open Source yang powerfull dan yang paling penting juga terpenting bagi user (kalangan pegawai ’ndeso’ seperti kami) memiliki kemudahan dan kepraktisan yang jauh lebih unggul dari buatan para insinyur Bill Gates.
Dan bila sudah ada aplikasi yang powerfull tersebut, maka kami pun akan beralih menggunakan opens source buatan dalam negeri sendiri. Go… Open Source Indonesia.
Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.














Semangat!!!
) di Lamongan bisa diatasi dengan menaruh aplikasi front end di setiap client.. bahkan komputer Pentium 3 bisa RAM 256 MB bisa menjalankan SIMPUSTRONIK dengan nyaman..
Setelah join di milis access, masalah mie instant (bukan mie yabi
salam. dengan php, simpus kami sudah jalan di linux pak.
sukses untuk dinkes pasuruan.. moga2 bisa menular juga ke dinkes yang lain…
semoga bisa diikuti yang lainnya, salam kenal
belum pernah nyoba distro linux ini
Sekedar info … Indonesia sudah punya OS yang Open source. namanya IGOS Nusantara dan beberapa variannya … semesial blankon, dll.
IGOS adalah proyek Depkominfo untuk menjawab pembajakan Windows, terutama di kalangan bisnis/swasta. Nah untuk lingkungan Diknas, Instansi Pemerintah sendiri belum banyak yang pake. padahal pelatihan IGOS diberikan secara free. baik peserta nya yang datang ke Jakarta (Gedung LIPI Jl. Gatot Subroto) ataupun Tim IGOS yang dipanggil ke tempat anda. semuanya gratis.
Sempat install … tapi ga dilanjutin lagi. Laptopku ga mau akrab dg Igos.