Perkembangan SIMPUStronik dan SIMPUS di Jawa Timur
12/07/2010 by: adminBeberapa waktu yang lalu Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur Melakukan pertemuan yang membahas tentang pencatatan dan pelaporan. Menurut hasil evaluasi, Di Jawa Timur pada saat ini terbagi dalam 3 mazhab besar simpus yang terdiri dari Mazhab Simpustronik Ngawi, Mazhab SIMPUS web Base, dan Mazhab SIMPUS lain-lain yang dikembangkan oleh masing-masing kabupaten. Mazab lain-lain ini waluapun kurang populer ternyata juga eksis dalam membantu melakukan proses pencatatan rekam medis, diantaranya : Lumajang dan Nganjuk dan akan menyusul Gresik.
Secara umum dari ke tiga mazhab tersebut terbagi dalam 2 paltform aplikasi, aplikasi berbasis desktop (foxpro, Acces, VB) dan berbasis Web (PHP, My SQL). Aplikasi berbasis web base sangatlah menarik perhatian bagi sebagaian audiens, karena tampilannya yang menarik dan konektifitas data nya yang bisa berbasis server murni dan open source, walaupun terkadang menurut penulis open source ini masih perlu dipertanyakan. Aplikasi bolehlah open source, tapi apakah Sistem Operasi Server dan Station juga sudah benar-benar opensource menggunakan LINUX. Kalaulah OS masih menggunakan Windows dan Office nya Micrososft masih belum lah kalau dikatakan open source murni.
Salah satu session acara adalah menampilkan panel diskusi perkembangan SIMPUS dari 3 kabupatan yang mewakili ke 3 mazab, presentasi pertama Dinas Kesehatan banyuwangi mempresentasikan SIMPUS Wangi, Sebuah aplikasi SIMPUS berbasis Web. Dalam paparannya disampaikan Banyuwangi membangun SIMPUS tidaklah instan dan sudah diawali dari 2-3 tahun yang lalu. Pada tahun 2009 mendapatkan dana sekitar (kalau tidak salah) 2,5 M untuk membangun SIMPUS mulai perangkat PC, tower Wi-Fi yang bersinergi dengan Pemkab, dan pengembangan aplikasi SIMPUS Wangi. Dari diskusi penulis dengan peserta yang lain, yang menjadi tantangan Banyuwangi adalah bagaimana memelihara SIMPUS bila ada pengembangangan dan perubahan permintaan dari User, karena untuk ‘ngoprek’ aplikasi web base dibutuhkan penguasan minimal 4 aplikasi : PHP, My SQL, Cristal report, dan GD Library. Setidaknya harus disediakan dan khusus untuk memelihara dan mengembangkan aplikasi ini.
Presentasi kedua, Dinas Kesehatan Lumajang menampilkan SIMPUS Lumajang, sebuah aplikasi yang dibangun dari Dinkes Kabupaten, dipadukan dengan SIMPUS dari Puskesmas dengan mengambil rancangan/acuan data base dari SIMPUStronik Ngawi. Aplikasi ini berbasis Desktop menggunakan My SQL sebagai data base dan Delphi sebagai pembuat antar muka atau interface nya. Sangat menarik dan sangat mungkin untuk pengembangan lebih lanjut.
Presentasi ketiga adalah Dinas Kesehatan Ngawi yang menyampaikan -seperti biasa- SIMPUStronik, belum begitu banyak perubahan berarti dari SiMPUStronik ini, hanya ditambahi dengan berbagai permintaan dari user. Walaupun secara basis aplikasi sangat sederhana dan jauh dari sempurna, tapi kemampuan tim dalam mengadopsi dan mengembangkan permintaan dari user menjadi keunggulan tersendiri. Bagi pengikut mazab simpustronik diantaranya : Bondowoso, Lamongan, Pacitan, Madiun dan beberapa kabupaten lainnya sepakat akan kemudahan dalam mengembangkan dan memenuhi kebutuhan user.
Sungguh capaian yang istimewa bagi dinkes di propinsi Jawa Timur yang memiliki keanekaragaman SIMPUS. Di akhir pertemuan pak Haky menampilkan e-reporting sebuah aplikasi yang akan menampung.





setuju sekali..pak.. (apanya ya yang disetujui ?…). sangat senang mendengar banyak kabupaten berlomba2 untuk memproduksi simpustronik. Toh semua tujuannya adalah sama..mempermudah user dan menjaga keakuratan data, sukur2 bisa up to date. Menurut saya yang paling penting adalah :
1. Sustainability / keberlangsungan software itu sendiri. sangat dipengaruhi oleh :
– Kebijakan pimpinan (policy), apakah setiap ada pergantian pimpinan yang baru selalu
mendukung penuh simpustronik ???
– Dana, apakah ke depannya selalu ada dana yang mendukung ? belum lagi kalau
memikirkan operasional dan pemeliharaan di puskesmas
2. Kemudahan dalam meng”oprek” software itu.
Sebagian user terkadang ingin ada penambahan menu dan penambahan itu diminta
secepatnya. Dengan kemudahan dalam mengoprek maka waktu yang diperlukan juga tidak
terlalu lama, belum lagi ditambah pendistribusian software revisi ke masing2 Puskesmas.
(padahal di Kab Pacitan ada 24 Puskesmas dan jaraknya sangat..sangat jauh)
3. Peningkatan kemampuan user
Secanggih dan secantik apapun software yang kita buat..semua tetap tergantung dari entry
data. Yang menjadi pertanyaan : Sejauh mana keakuratan dan kemauan user (baca :
puskesmas) dalam entry data menggunakan software simpus.
Terlepas dari 3 hal di atas, saya tetep acungkan 10 jempol buat teman2 yang BERNAFSU mengembangkan Simpus..Kapan2 ajari kami ya…ach
Tetap semangat dan terus berjuang….
Salam TIM SIK Kab Pacitan
yapp, hawa nafsu mengembangkan simpustronik layak untuk diikuti..
Komennya Kang Kartolo ( Mbah Dian BS) patut diapresiasi, bagus itu…. nafsu mengembangkan simpus sah sah saja, apa pun software simpusnya yg penting output nya sama
Majulah Jawa Timur…
terimakasih atas kunjungannya… Yang lain saya kira juga bisa lebih maju daripada Jatim..
Pelan namun pasti, integrasi sim kesehatan adalah tujuan yang hendak dicapai. Setidaknya harus ada upaya dari masing2 pihak terkait (dinkes, vendor, dll) untuk mengarahkan pengembangan simpus menuju terwujudnya tujuan tersebut. Kekurangan selalu ada, tapi bukan alasan untuk tdk memulainya. Salut untuk Kab. Banyuwangi yg sudah memulai menapaki era opensource. “Gunakan Open Source, legal dan menghemat uang negara”.
Open Source suatu keharusan… Asakan SDM siap untuk berubah, OS Open Source pastilah menjadi pilihan..
Wah2….hebat2…cayo2….semoga kabupaten Ponorogo juga bisa menjadi salah satu yang mengisi keanekaragaman SIMPUS dijawa timur….